..little things of Chantee..

Main di sekolahnya Mama-Papa

Baru kali ini anak-anak aqu ajak ke UII, “ini lho maz, dek, sekolahnya Mama Papa dulu..” (sambil sedikit ngelamun mengenang masa2 kuliah dulu..hhmmm…tiap hari di jemput my Riz naik motor, boncengan, pelukan,…hush..cukup..cukup….) mungkin ga terlalu penting buat mereka tempat apa ini, yg lebih penting adalah ada tempat bermainnya ga…dan ternyata mereka sangat menikmati bermain di sana, 3 jam nunggu Papa nya nguji pendadaran, buat mereka ga terasa…(padahal pantatqu serasa ambeien nunggu lama banget 😦 )

Untungnya disana selain halaman rumputnya luas banget, ada kelinci2 yg lucu2…anak2 kejar2an sama kelinci..

Ada juga selang penyemprot rumput..wah..ini yg bikin mereka betah…kejar2an saling nyemprot..sampe basah kuyup luar dalam atas bawah depan belakang…gapapa dech, yg penting ga rewel nunggu kelamaan..

Next time aqu mau ajak mereka lagi kesini, ternyata bisa menyelam sambil minum air, karena selain anak2 punya tempat main baru, Papa nya juga seneng gawe ditunggu anak istri nya… 😀

Advertisements

August 31, 2008 Posted by | refreshing | , , | 2 Comments

on vacation

August 31, 2008 Posted by | refreshing | , , , | 4 Comments

Psikolog Anak

Semalam sehabis menemani Arqi belajar…aqu coba mempraktekkan Test yg dilakukan si psikolog anak pada kasus Dika kemarin….waktu aqu baca jawaban Dika kemarin, aqu nangis…tapi waktu baca jawaban Arqi, aqu malah ketawa ngakak….kok bisa beda yaaaa….

Q : Apa yang kamu ingin Ibumu lakukan?

A : i want my mom doing a silly action

Q : Apa yang kamu ingin Ayahmu lakukan?

A : (seperti pertanyaan no.1)

Q : Apa yang kamu senangi dari Ibumu?

A : she’s funny

Q : Apa yang kamu senangi dari Ayahmu?

A : he’s funny

Q : Apa yang paling kamu tidak suka dari Ibumu?

A : the angry…like this…(menggambar seorang perempuan lagi bertolak pinggang, matanya melotot, sambil teriak : Arqi!!!)

Q : Apa yang paling kamu tidak suka dari Ayahmu?

A : sekarang, ayahku gampang/mudah kedinginan

Q : Apa yang paling membuatmu sedih?

A : the angry from my mother and father

Q : Apa yang paling membuatmu senang?

A : give me a PS2

Q : Apa yang paling kamu takutkan?

A : nothing

Q : Kalau disuruh memilih, Ayah atau Ibu, kamu lebih memilih siapa?Apa sebabnya?

A : father, because he’s funny, jarang marah, and suka begadang

August 22, 2008 Posted by | informasi ga penting | , , | 5 Comments

True Story

Postingan ini menyambung postingan yg kemarin…trims ya Andrew dah kasih artikel ini untuk aqu..aqu nangis bacanya Drew… 😦

Untuk direnungkan …..
saya buka kembali buku hidup saya, sebagai bahan perenungan bagi para orang tua.

Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika “Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya

“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih
dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali
ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa factor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”

Dikapun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu” Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."

Dikapun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ......"



Dikapun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya.

Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",

Dikapun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf
kepadaku". Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan
kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari........."

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar " Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku" Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari......"

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya
senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku...."

Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata "Tole", kependekan dari kata "Kontole" yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .."

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To
Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat ALLAH.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2004,
saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu berpikir, bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki ALLAH.

(Ditulis oleh : Lesminingtyas)

August 21, 2008 Posted by | informasi ga penting | , , , , | 2 Comments

duh, arqi…

Pagi tadi sempet terjadi sedikit prahara di rumah…lagi-lagi karna sifat anehnya Arqi yg sering banget kumat..kenapa yaa… 😦

Berawal dari semalam, aqu minta Arqi berangkat sekolah pagi ini lebih awal karena aqu sekalian antar Papa nya ke bandara..my Riz check in pk.05.30wib, jadi kami harus berangkat dari rumah pk.05.15wib, tapi Arqi protes, karna bangunnya jadi kepagian, padahal sebenernya ya ga kepagian banget, wong biasanya kalo PKS Arqi suka pasang weker sendiri bangun jam 04.30wib kok, dan jam masuk sekolah di Sapen itu pk.06.40wib…sekali lagi karna ini bukan untuk kepentingan dia makanya dia malas bangun lebih awal..hhmmmm…..sementara aqu juga repot kalo harus antar ke bandara kemudian pulang lagi dan baru antar Arqi ke sekolah..

Dan klimaksnya tadi pagi…Arqi susah dibangunin, ga mau bangun..males2an..padahal aqu dan Papa nya udah siap dari tadi..awalnya aqu masih bisa sabar..bicara halus..lama2 kok susah juga ya nahan emosi…hhmmm….jam 05.15wib Arqi masih di kamar mandi…santaaaaiiii bangeettt…seakan demonstratif menunjukkan ketidaksukaannya bangun pagi…

Arqi : ..mbok Mama antar Papa dulu aja..nanti baru antar Arqi…

Mama : ya ampun maz..kamu kok tega banget tho…tiap hari khan Papa juga bangun pagi antar kamu sekolah, meskipun jam kantor Papa agak siang..mosok kamu antar Papa ke bandara sekali2 aja ga mau?

Duuuhhh….di halus ga bisa…dikasar apalagii…jam 05.30wib aqu dan my Riz dah nunggu di mobil..Arqi masih dengan style santai nya…pake berlinangan air mata pula (keras tapi getas, seperti Mama kata my Riz), my Riz yg dari tadi diem aja mulai ga sabar liat kelakuan Arqi..my Riz turun dr mobil dan masuk rumah (ga tau apa yg terjadi di dalam sana) ga lama my Riz keluar diikuti Arqi yg masih berlinangan air mata sambil bawa tas dan sepatu yg ternyata jg belom dipake…duuhhh…..

Di jalan my Riz bawa mobil dah kaya pembalap F1 😀 untung jalanan masih sepi banget, dan bener aja, bosz my Riz telpon dari bandara, ya ya pak….wuuuuuzzzzz……gubraakk!!

Dalam mobil tadi my Riz cerita…bosz nya yg dulu juga punya anak laki-laki sekolah di Sapen, sifatnya persis kaya Arqi..keras, cuek, berani sama orang tua, ga perduli sama lingkungan, dan sangat egois..kenapa??apakah semua murid Sapen seperti itu??

Aqu teringat beberapa hari yg lalu, Arqi demonstratif nolak tentor yg sudah datang ke rumah..dia ga mau les privat di rumah..alasannya karna di sekolah sudah les 2x seminggu…Arqi ga mau keluar, sekali lagi sambil menangis…sampe tentornya pulang, Arqi tetep di dalam kamar…

Lalu tentornya cerita banyak, berdasarkan pengalaman dia mengajar les privat, tipikal anak2 itu bisa dilihat dari asal dia sekolah, lho??kok aneh ya??…ternyata menurutnya, Sapen itu cenderung menerapkan disiplin yg sangat kuat kepada murid2nya..anak2 dijejali ilmu, ilmu dan ilmu..sampai anak jadi kurang perhatian kepada orang lain, cuek, dan cenderung egois, sulit bersosialisai…beda dengan anak2 yg bersekolah di Budi Mulia, mereka cenderung lebih mudah bergaul, labih care terhadap sesama, hubungan sosial nya sangat bagus..tapi dalam hal ilmu, Budi Mulia sangat kurang dibanding Sapen..ya semua ada sisi baik dan buruk nya, tinggal orang tua yg harus pintar2 mensiasati kekurangan2 itu..

Lalu dalam konteks prahara pagi tadi, apakah aqu bisa menyalahkan Sapen sehingga Arqi jadi bertabiat seperti itu? 😦 ato aqu yg masih banyak kekurangan dalam mendidik Arqi 😦

August 20, 2008 Posted by | informasi ga penting | , , , | 7 Comments